Waspada Penyakit Kronis Menyerang Usia Muda

Waspada Penyakit Kronis Menyerang Usia Muda

Penyakit kronis seperti jantung, stroke, darah tinggi dan diabetes masih menjadi sebuah ancaman besar bagi masyarakat di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM), Kementerian kesehatan Cut Putri Ariane (4/7/20), beliau menjelaskan bahwa saat ini tren PTM semakin meningkat dan menyerap biaya terbesar dalam JKN. Riskesdas 2018 juga mendeteksi peningkatan PTM terbukti dengan hasil yang diperoleh yaitu sebesar 31% masyarakat Indonesia mengalami obesitas sentral serta 21,8% terjadi obesitas pada dewasa. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan juga menunjukkan bahwa saat ini perkembangan PTM di Indonesia kian mengkhawatirkan. Pasalnya peningkatan tren PTM diikuti oleh pergeseran pola penyakit, jika dulu penyakit ini biasanya dialami oleh kelompok lanjut usia maka kini mulai mengancam usia produktif. Banyak kasus kematian mendadak di usia muda yang disebabkan oleh penyakit kronis dan hal ini jarang disadari oleh kebanyakan orang, tidak jarang dari luar tampak sehat namun ternyata di dalam tubuhnya terdapat penyakit yang serius.

Lalu apa sebenarnya penyebab utama penyakit kronis yang menyerang anak muda?

Dari hasil Riskesdas 2018 dapat disimpulkan bahwa penyakit kronis yang menyerang anak muda saat ini disebabkan oleh:

1. Perilaku Merokok

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa perilaku merokok pada usia remaja (10-18 tahun) meningkat menjadi 9,1% dari 7,2% (Riskesdas 2013), 8,8% (Sirkesnas 2016). Seperti kita ketahui bersama bahwa zat di dalam rokok dapat memicu terjadinya penyumbatan darah yang berujung pada darah tinggi, jantung hingga stroke.

2. Konsumsi Minuman Beralkohol

Data konsumsi minuman beralkohol pun mengalami peningkatan dari 3% menjadi 3,3% dan 0,8% mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Gaya hidup yang semakin modern diduga menjadi pemicu kuat meningkatnya konsumsi alkohol saat ini terutama di kota-kota besar.

3. Aktivitas Fisik Kurang

Walaupun tren olahraga sedang naik ternyata tidak serta merta membuat banyak orang lebih rajin melakukan aktivitas fisik dari data yang diperoleh 33.5% masyarakat di Indonesia masih kurang dalam melakukan aktivitas fisik, jumlah ini mengalami peningkatan dari sebelumnya yang hanya 26,1%. Faktor utama yang menjadi alasan ialah malas dan lebih memilih berdiam diri dirumah bermain gadget.

4. Kurangnya Proporsi Konsumsi Buah dan Sayur

Hal lainnya yang menjadikan faktor penyebab peningkatan PTM pada usia produktif adalah jumlah proporsi konsumsi buah dan sayur yang kurang pada penduduk yakni sebesar 95,5%. Kemudahan memesan makanan/minuman cepat saji melalui aplikasi online menjadi salah satu faktor tingginya angka konsumsi buah dan sayur yang kurang pada masyarakat saat ini.

Semua elemen dari gaya hidup tidak sehat tersebut sama-sama mengakibatkan penyempitan dan penurunan elastisitas pembuluh darah, sebuah kondisi yang disebut sebagai aterosklerosis. Dimana kondisi tersebut membuat jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah, lama kelamaan tekanan darah akan naik hingga beresiko hipertensi. Gaya hidup tidak sehat juga dapat mengacaukan produksi hormon dan enzim tubuh, termasuk insulin. Padahal, insulin berperan penting untuk mengatur gula darah dan tekanan darah. Peningkatan kadar gula darah yang tidak terkendali dapat memicu gejala diabetes sekaligus menyebabkan kerusakan pembuluh darah kapiler. Diabetes dan hipertensi adalah “orang tua” dari berbagai kemunculan penyakit kronis lainnya, seperti penyakit jantung dan stroke.

Jika hal ini terus berlanjut dan tidak di cegah dari sekarang akan tidak mungkin hal ini berdampak besar bagi SDM dan perekonomian Indonesia ke depan. Karena, di tahun 2030-2040 mendatang Indonesia akan menghadapi bonus demografi yang mana usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan kelompok usia non produktif. Namun, apabila tren PTM usia muda naik maka upaya Indonesia untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas menuju Indonesia maju pada 2045 mendatang, sulit tercapai.

Adakah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit kronis pada usia muda?

Kementerian Kesehatan mencanangkan prinsip CERDIK untuk semakin memudahkan masyarakat mulai menjalani gaya hidup sehat.
Gerakan CERDIK sendiri adalah singkatan dari:

    • Cek kondisi kesehatan secara berkala, termasuk berat dan tinggi badan sampai kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Cek kesehatan rutin bisa dimulai sejak usia 15 tahun dan dilakukan setahun sekali untuk mendeteksi risiko terhadap penyakit. Jika sudah berisiko, sebaiknya periksakan kesehatan lebih sering.
    • Enyahkan asap rokok dan berhenti merokok
    • Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari, seperti olahraga, berjalan kaki, membersihkan rumah. Lakukan aktivitas fisik dengan teratur
    • Diet dengan gizi seimbang, konsumsi makanan sehat, makan buah sayur yang cukup, hindari makanan manis yang berlebihan dan minuman berkarbonasi
    • Istirahat yang cukup, pastikan mendapatkan tidur yang cukup dalam sehari, setidaknya tidak kurang dari tujuh atau delapan jam
    • Kelola stres dengan baik

Prinsip CERDIK juga dapat sekaligus meminimalisir atau bahkan membatalkan faktor risiko penyakit yang sudah dimiliki, misalnya tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi.



 

 

 

 

 

Sumber :

 

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Terkait

6 Perbedaan Tifus dan DBD

6 Perbedaan Tifus dan DBD

Tifus dan Demam Berdarah Dengue (DBD) pada dasarnya memiliki gejala khas yang sama, yaitu demam tinggi hingga lebih dari 37,2 derajat Celcius selama berhari-hari. Hal

Read More »
Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Stroke merupakan bagian dari penyakit kardiovaskular yang digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial. Hingga saat ini stroke masih

Read More »