Terapi Plasma Darah Konvalesen Bagi Penderita Covid-19

Terapi Plasma Darah Konvalesen Bagi Penderita Covid-19

Pemerintah saat ini terus berupaya melakukan penanganan pada masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19, salah satunya dengan menggunakan terapi plasma konvalesen. Terapi ini mulai banyak digunakan setelah terbitnya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/346/2020 tentang Tim Penelitian Uji Klinis Pemberian Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), sebagai upaya percepatan penanganan Covid-19. 

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan terapi plasma konvalesen?

Terapi ini dilakukan dengan cara memberikan kekebalan atau imunitas pasif melalui pemberian imunoglobulin dengan plasma konvalesen. Plasma konvalesen sendiri adalah plasma darah yang diambil dari pasien terdiagnosa Covid-19 dan sudah 14 hari dinyatakan sembuh ditandai dengan pemeriksaan swab menggunakan RT-PCR sebanyak 1 kali dengan hasil negatif. Plasma tersebut kemudian diberikan kepada penderita Covid-19 dengan harapan antibodi tersebut mampu melawan infeksi yang sedang berjalan. 

Sederhananya, terapi plasma konvalesen dapat dikatakan sebagai transfer antibodi antara penyintas suatu infeksi kepada orang yang tengah mengalami infeksi

Apakah semua pasien Covid-19 akan mendapat terapi plasma konvalesen?

Ternyata pemberian terapi plasma konvalesen ini tidak ditujukan kepada semua penderita Covid-19, Peneliti Senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H.Mudjiono menyatakan kepada tim Litbang Kemenkes, pemberian plasma konvalesen sebagai terapi tambahan Covid-19 hanya diberikan untuk pasien derajat berat dan pasien derajat sedang yang mengarah kegawatan (pneumonia dengan hipoksia). Terapi ini juga bukan bagian dari pencegahan melainkan pengobatan pasien, karena sifatnya sebagai terapi.

Bagaimana cara kerja dari terapi plasma konvalesen?

Terapi plasma konvalesen diberikan dengan cara mengambil plasma darah yang mengandung antibodi dari pendonor, kemudian antibodi tersebut ditransfusikan kepada yang membutuhkan. Jika dahulu kita hanya mengenal darah yang diberikan sebagai donor, maka untuk transfusi plasma konvalesen yang diambil adalah produk darahnya. Artinya, dari satu darah utuh yang diambil hanya plasma darahnya saja.

Seberapa potensial terapi plasma konvalesen untuk mencegah terjadinya Covid-19 berat?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH), terapi plasma konvalesen untuk Covid-19 diduga bermanfaat bila diberikan pada fase awal penyakit dengan titer antibodi yang tinggi. Terapi plasma konvalesen terbukti bermanfaat untuk mencegah munculnya Covid-19 berat bila diberikan pada pasien yang:

1. Usia tua
2. Sakit ringan
3. Diberikan ≤ 72 jam setelah gejala muncul, dan
4. Titer antibodi di plasma konvalesen tinggi (>1:1000)

Adakah persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin menjadi pendonor plasma konvalesen?

Menurut Satgas Covid-19, adapun syarat yang harus dipenuhi seorang pendonor plasma konvalesen sebelum melakukan donor, antara lain:

          1. Usia 18-60 tahun
          2. Berat badan >55 kg
          3. Diutamakan pria (bila perempuan diutamakan yang belum menikah dan hamil)
          4. Tidak menerima transfusi darah selama 6 bulan terakhir
          5. Memiliki surat keterangan sembuh dari dokter dan bebas keluhan minimal 14 hari

Sejauh ini penelitian terkait efektivitas plasma konvalesen sebagai salah satu terapi bagi penderita Covid-19 masih terus dilakukan. Sebelumnya, terapi plasma konvalesen pernah digunakan untuk pengobatan flu babi, Ebola, SARS dan MERS. Hingga kini, terapi plasma hanya boleh dimanfaatkan untuk kondisi kedaruratan dan dalam penelitian. Manfaat terapi ini juga masih kontroversial karena belum cukup bukti yang menunjukkan efektivitasnya.

Untuk Indonesia sendiri, pada September 2020 Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan secara resmi memulai uji Klinik Terapi Plasma Konvalesen pada Covid-19. Uji klinis ini dibantu empat rumah sakit besar, yaitu RSUP Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr. Ramelan Surabaya, dan RSUD Sidoarjo Jawa Timur dengan melibatkan sebanyak 364 pasien sebagai partisipan.



Sumber:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Terkait

6 Perbedaan Tifus dan DBD

6 Perbedaan Tifus dan DBD

Tifus dan Demam Berdarah Dengue (DBD) pada dasarnya memiliki gejala khas yang sama, yaitu demam tinggi hingga lebih dari 37,2 derajat Celcius selama berhari-hari. Hal

Read More »
Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Stroke merupakan bagian dari penyakit kardiovaskular yang digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial. Hingga saat ini stroke masih

Read More »