Short Term Memory Loss Syndrome (Sindrom ‘Dory’)

Short Term Memory Loss Syndrome (Sindrom ‘Dory’)

Tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita melupakan sesuatu yang sedang dibicarakan atau kerjakan. Misalnya ketika akan menyiapkan makan siang, sudah mengambil piring, dan ditinggalkan sebentar untuk minum, tetapi setelah itu kita justru bingung apa yang akan kita lakukan tadi, atau ketika lupa meletakkan pulpen padahal pulpen tersebut ada di dekat kita dan hanya terhalang benda kecil.

Awalnya mungkin terasa wajar dan tidak mengganggu, namun bagaimana jika hal itu sering terjadi? Jika hanya terjadi beberapa kali mungkin faktor utamanya adalah kelelahan, namun jika sering terjadi, patut diwaspadai itu adalah Short-term Memory Loss Syndrome atau banyak dikenal dengan Sindrom ‘Dory’.

Apa sebenarnya short term memory loss syndrome atau Sindrom ‘Dory’ itu?

Short-term memory atau memori jangka pendek disebut juga sebagai memori aktif atau dasar. Letaknya pada bagian otak depan (frontal lobe). Normalnya semua peristiwa atau kejadian yang dialami dalam waktu 30 detik sampai beberapa hari kedepan akan disimpan dalam memori tersebut.
Namun pada kondisi Short-term Memory Loss Syndrome kejadian atau peristiwa yang baru saja terjadi tersebut tidak tersimpan dalam short-term memory. Singkatnya Short-term Memory Loss Syndrome adalah kondisi ketika seseorang lupa apa yang didengar, dilihat atau dilakukan beberapa saat lalu.
Kehilangan ingatan sesaat ini juga disebut sebagai Sindrom ‘Dory’ karena terinspirasi dari sosok Dory dalam serial film Finding Nemo. Dory, Si Ikan Biru tersebut digambarkan sebagai karakter yang mudah lupa akan hal yang baru saja dia lakukan dan selalu mengatakan “Hello, I’m Dory, I suffer from short-term memory loss…” jika bertemu dengan makhluk laut lainnya.

Bagaimana Gejala dari Short-term Memory Loss Syndrome?

Pada kondisi short term memory loss syndrome biasanya gejala yang akan timbul antara lain:

        1. Menanyakan hal yang sama terus menerus
        2. Lupa dimana meletakkan sesuatu
        3. Lupa apa yang baru saja terjadi
        4. Lupa apa yang baru saja dibaca atau dilihat

Sebenarnya kondisi tersebut akan dikatakan wajar jika dialami oleh lansia, karena pada dasarnya short term memory loss akan terjadi seiring bertambahnya usia seseorang.
Lalu bagaimana jika tersebut menimpa kalangan usia produktif atau muda?

Pada dasarnya banyak faktor penyebab terjadinya short term memory loss syndrome pada usia muda, diantaranya:

1. Brain Overload

Kondisi tersebut terjadi ketika informasi yang diterima terlalu banyak atau penuh  sehingga otak mengalami gangguan memori

2. Kurang Istirahat

Kuantitas dan kualitas tidur sangat penting bagi kinerja memori otak. Tidur terlalu sedikit atau sering terbangun di malam hari akan membuat otak mudah mengalami kelelahan, kondisi inilah yang dapat memicu terjadinya gangguan dalam kemampuan mengingat.

3. Depresi dan Stres

Pada saat depresi dan stress akan membuat seseorang mengalami kesulitan untuk fokus yang berakibat pada kemampuan memori otak. Selain itu, stres yang disebabkan oleh trauma emosional seseorang juga dapat menyebabkan hilangnya memori ingatan seseorang.

4. Kurang Gizi

Kurangnya vitamin seperti B1 dan B12 secara khusus dapat berpengaruh pada memori, karena bagaimanapun otak juga membutuhkan asupan nutrisi yang cukup agar dapat bekerja secara optimal.

5. Konsumsi Alkohol dan Kebiasaan Merokok

Konsumsi alkohol yang berlebihan telah lama dipercaya sebagai penyebab hilangnya memori ingatan. Sedangkan pada rokok sudah terbukti mengandung zat kimia yang berbahaya dan akan mengubah zat kimia alami otak, sehingga pasokan oksigen ke otak menjadi terganggu yang dapat memperburuk daya ingat.

Cara mengatasi hilangnya short term memory loss syndrome?

Dalam tahap ringan short term memory loss syndrome masih bisa diatasi dengan beberapa cara, seperti:

1. Mengkonsumsi suplemen penunjang seperti vitamin B12, Minyak ikan, Kurkumin dari kunyit
2. Mengkonsumsi makanan bergizi
3. Tidur cukup
4. Rajin melakukan aktivitas fisik
5. Membuat jadwal dan apa yang harus dilakukan untuk membantu mengingat
6. Melatih otak dengan mengisi TTS (Teka Teki Silang)



 

 

 

 

Sumber:

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Terkait

6 Perbedaan Tifus dan DBD

6 Perbedaan Tifus dan DBD

Tifus dan Demam Berdarah Dengue (DBD) pada dasarnya memiliki gejala khas yang sama, yaitu demam tinggi hingga lebih dari 37,2 derajat Celcius selama berhari-hari. Hal

Read More »
Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Stroke merupakan bagian dari penyakit kardiovaskular yang digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial. Hingga saat ini stroke masih

Read More »