Kenali Perbedaan Maag dan Gerd

Kenali Perbedaan Maag dan Gerd

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa maag dan gerd adalah penyakit yang sama, padahal keduanya jelas berbeda walau merupakan gangguan lambung. Ketika merasa gejala mual, muntah, dan nyeri lambung biasanya orang akan menggunakan obat yang sama karena menganggap penyakit yang dirasakan adalah sama.

Lalu apa perbedaan Maag dan Gerd?

Maag atau dalam istilah medisnya disebut gastritis terjadi ketika lapisan pelindung yang ada di lambung meradang atau membengkak, hal ini biasanya terjadi karena infeksi bakteri yang menyebabkan sebagian besar luka di lambung.

Sedangkan, Gerd adalah suatu kondisi naiknya asam lambung ke kerongkongan, hal ini biasanya terjadi karena katup sistem pencernaan yang tidak berfungsi optimal. Seseorang dapat dinyatakan menderita Gerd bila terjadi kenaikan asam lambung ringan sekitar dua kali seminggu atau setidaknya sekali dalam seminggu.

Nah untuk lebih jelasnya, berikut beberapa ulasan untuk mengenali perbedaan antara Maag dan Gerd:

1. Tempat terjadinya (Anatomi)

Maag berhubungan dengan iritasi yang terjadi pada lambung. Sedangkan Gerd dipicu oleh terganggunya fungsi suatu otot di kerongkongan yang dinamakan sfingter esofagus.

Sfingter adalah otot katup yang berfungsi menutup jalur atau bukaan pada tubuh. Sfingter esofagus memungkinkan makanan masuk ke lambung dan membantu menjaga agar makanan tidak kembali ke kerongkongan. Ketika terjadi iritasi, katup sfingter bisa rusak atau melemah sehingga begitu cairan pencernaan dan isi perut harusnya tertahan naik kembali ke kerongkongan dan Gerd pun terjadi.

2. Penyebab 

Penyebab terjadinya Maag bisa bermacam-macam, diantaranya memiliki lapisan lambung yang tipis atau rusak sehingga meningkatkan resiko seseorang untuk terkena gastritis atau maag. Ketika lapisan lambung terlalu lemah, enzim pencernaan bisa saja merusaknya, kondisi inilah yang akan menyebabkan gastritis.

Penyebab lain gastritis adalah infeksi bakteri gastrointestinal, seperti bakteri Helicobacter Pylori dimana dapat ditularkan dari orang ke orang atau melalui makanan/minuman yang telah terkontaminasi.

Sedangkan, pada Gerd kondisi ini disebabkan saat seseorang memiliki hiatus hernia (adanya bagian lambung yang menonjol masuk ke esofagus) atau jika seseorang memiliki sfingter esofagus yang pendek (panjang kurang dari 3 cm) kerap menjadi penyebab Gerd.

Selain itu, faktor-faktor berikut juga dapat memicu terjadi iritasi pada sfingter diantaranya:

        • Makanan, seperti coklat, makanan berlemak, pedas, buah atau jus yang dengan keasaman yang tinggi
        • Minuman, seperti kopi dan soda
        • Rokok
        • Alkohol
        • Obat-obatan golongan tertentu seperti antikolinergik, beta-adrenergik, nitrat, calcium-channel blocker
        • Hormon

3. Gejala

Untuk mengetahui perbedaan Gerd dan Maag juga dapat dilihat dari gejalanya. Pada Gastritis umumnya tidak menyebabkan gejala yang jelas pada semua orang, namun gangguan pada sistem pencernaan umumnya menjadi gejala maag yang paling sering dirasakan, seperti:

        • Mual
        • Muntah
        • Perasaan begah di perut bagian atas, terutama setelah makan
        • Gangguan pencernaan
        • Sakit perut dan perut kembung
        • Kehilangan selera makan
        • Muntah darah atau muntah berwarna hitam seperti biji kopi
        • Tinja berwarna hitam

Sementara itu, untuk tanda dan gejala umum Gerd muncul dalam bentuk yang berbeda dari maag, di antaranya adalah:

        • Sensasi terbakar di dada (heartburn), biasanya setelah makan yang mungkin memburuk di malam hari
        • Sakit dada
        • Kesulitan menelan
        • Makanan atau cairan asam naik ke kerongkongan
        • Sensasi seperti ada benjolan atau yang mengganjal di tenggorokan
        • Pada kondisi tertentu jika memiliki refluks asam malam hari mungkin juga dapat menyebabkan: batuk kronis, radang tenggorokan, sesak napas seperti asam, dan tidur terganggu

4. Pengobatan

Pada dasarnya prinsip pengobatan Maag dan Gerd berbeda, untuk gastritis pengobatan yang diberikan tergantung penyebabnya sedangkan pada gerd berfokus pada peningkatan fungsi sfingter esofagus.

Pengobatan untuk mengatasi maag atau gastritis meliputi:

      • Jika gastritis disebabkan oleh konsumsi obat anti inflamasi non-steroid atau alkohol, maka sebaiknya hentikan penggunaannya
      • Obat antibiotik (kombinasi dari klaritromisin dan amoksisilin atau metronidazol) hanya akan diberikan jika maag disebabkan oleh bakteri H.pylori.
      • Obat yang menghambat produksi asam dan meningkatkan proses penyembuhan, seperti omeprazole, lansoprazole, rabeprazole, esomeprazole, dexlansoprazole, dan pantoprazole.
      • Obat-obatan untuk mengurangi produksi asam, meliputi ranitidine, famotidine, cimetidine, dan nizatidine.
      • Antasida yang bisa menetralkan asam lambung

Sedangkan, pengobatan untuk mengatasi Gerd meliputi:

      • Penghambat pompa proton (PPI), yaitu obat golongan penekan sekresi (produksi) asam yang kuat dengan masa terapi lama. Setelah berhasil, dapat dilanjutkan dengan terapi pemeliharaan dengan menggunakan dosis yang lebih rendah seperti antagonis reseptor H2, prokinetik, atau bahkan antasida.
      • Antasida, sebagai penetral (buffer) terhadap asam klorida (HCl) sehingga dapat memperkuat tekanan sfingter esofagus bagian bawah
      • Obat-obatan prokinetik
      • Operasi

Sebenarnya baik Gerd dan Maag dapat dicegah dengan memelihara pola hidup sehat dan menerapkan beberapa hal berikut:

    1. Hindari konsumsi jangka panjang dari zat-zat yang dapat mengiritasi perut. Sepertinya, makanan yang dapat meningkatkan keasaman lambung, makanan berlemak, makanan yang mempengaruhi peristaltik seperti kol dan brokoli, obat-obatan OAINS (aspirin, ibuprofen) maupun alkohol
    2. Makan dengan tertib, jangan makanan dalam porsi besar terburu-buru, serta hindari berbaring setelah makan
    3. Hindari merokok
    4. Menurunkan berat badan jika kelebihan berat badan

 



 

 

 

Sumber:

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Terkait

6 Perbedaan Tifus dan DBD

6 Perbedaan Tifus dan DBD

Tifus dan Demam Berdarah Dengue (DBD) pada dasarnya memiliki gejala khas yang sama, yaitu demam tinggi hingga lebih dari 37,2 derajat Celcius selama berhari-hari. Hal

Read More »
Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Mitos dan Fakta Tentang Stroke

Stroke merupakan bagian dari penyakit kardiovaskular yang digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial. Hingga saat ini stroke masih

Read More »