You are currently viewing Kenali Penyakit Parkinson & Gejala yang Harus Diwaspadai

Kenali Penyakit Parkinson & Gejala yang Harus Diwaspadai

Parkinson merupakan suatu penyakit yang menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini bersifat progresif dan menahun. Mayoritas pengidap menderita penyakit saraf ini disebabkan oleh alasan tidak jelas, namun terdapat pula yang diturunkan.

Artikel ini akan membahas penyakit saraf tersebut selengkapnya, mulai gejala, sampai pengobatan, serta pencegahannya.

Penyebab Parkinson

Penyakit satu ini dapat muncul ketika dalam otak, produksi dopamine menurun karena sel saraf dalam substantia nigra mati. 

Perlu diketahui, dalam substantia tersebut terdapat sel saraf mengubah zat kimia otak atau  neurotransmitter menjadi dopamine yang memiliki tugas sebagai pengendali gerakan tubuh.

Kemudian, ketika ada penurunan jumlah dopamine, maka lintasan kelistrikan saraf pada ganglia basal dapat terganggu, khususnya pengendali gerak tubuh, perilaku, serta fungsi kognitif.

Penyebab konkret yang memicu penurunan dopamine sampai memicu parkinson masihlah belum diketahui. Akan tetapi, sejumlah faktor sudah dikenali menambah risiko mengidap penyakit ini, yakni:

  • Usia 
  • Jenis kelamin
  • Genetik 
  • Faktor pekerjaan, contohnya paparan terhadap logam berat dan pestisida
  • Kerap mengalami cedera kepala

Gejala Parkinson

Sejumlah gejala penyakit ini berkembang dalam tahapan. Umumnya, gejala ditandai dengan munculnya tumor pada satu tangan serta perasaan kaku pada tubuh. Lambat laun, gejala lain mengikuti, serta sejumlah orang bisa mengalami demensia.

Gejala penyakit ini berkembang dengan bertahap. Seringnya gejala dimulai dengan sedikit tremor di satu tangan dan perasaan kaku di tubuh. Seiring waktu, gejala lain berkembang, dan beberapa orang dapat mengalami demensia. 

Pada intinya, penyakit saraf ini mempunyai 4 gejala primer. Masing-masing diantaranya lebih baik tidak  sepelekan serta wajib diwaspadai. Jadi, berikut adalah gejalanya: 

  • Resting Tremor 

Ini merupakan gejala yang ditandai dengan gemetarnya anggota gerak tubuh. Seperti yang telah diketahui, tremor merupakan gejala penyakit saraf ini yang paling populer.

Gejala ini memiliki sifat simetris. Mulanya, tremor timbul pada salah satu sisi tubuh, akan tetapi kemudian bisa melibatkan kedua sisinya. Tidak hanya itu, tremor pun dapat berlangsung ketika tidak beraktivitas fisik, seperti diawali dengan jari-jemari.

  • Bradikinesia 

Ini merupakan keadaan ketika perlambatan gerak berlangsung. Biasanya, kerap dirasakan dengan anggota gerak tubuh yang melemah, meskipun ketika pemeriksaan tidak ditemukan kelemahan.

Penderita parkinson akan merasakan gejala ini melalui turunnya ketangkasan anggota gerak ketika beraktivitas sehari-hari. Lalu perlambatan tersebut pun berlangsung pada sejumlah otot wajah yang bisa ditandai dengan seringnya kedutan.

  • Rigiditas

Gejala ini merupakan kaku sendi dan otot. Penderita penyakit saraf ini kerap mengeluhkan kekakuan ketika menggerakan tubuhnya maupun ketika menggeleng kepala. 

Kekakuan tersebut pun ditandai melalui tulisan tangan yang mengecil atau micrographia

  • Gangguan Keseimbangan dan Postur

Gejala ini adalah sambungan dari 3 gejala primer sebelumnya yang lazimnya muncul ketika fase lanjutan. Pasalnya, penderita penyakit saraf ini lebih relatif membungkuk. Pada tahapan selanjutnya, tubuh bisa terlihat kaku layaknya patung.

Gejala Parkinson Lainnya

Tidak hanya gejala gangguan gerakan yang sudah disebutkan sebelumnya, penderita penyakit saraf ini pun bida mengalami tanda-tanda lainnya, seperti berikut ini:

  • Kehilangan kemampuan membau. Ini bisa berarti salah satu pertanda awal parkinson. Bisa juga muncul beberapa tahun sebelum tanda gangguan gerak melanda.
  • Gangguan pada fungsi otonom. Contohnya kesulitan saat buang air besar, kerap mengalami keinginan buang air kecil, sampai gangguan pada fungsi seksual.
  • Peningkatan produksi air liur diikuti gangguan menelan serta perlambatan sejumlah otot wajah.
  • Gangguan tidur.

Pengobatan Parkinson

Hingga kini, penyakit saraf ini belum mempunyai pengobatan yang pasti. Segala terapi yang tersedia kini bersifat sebagai peringan timbulnya gejala klinis, memperlambat perkembangan penyakit, serta menambah kualitas hidup pengidap.

Terdapat 3 tahapan dalam pengobatan penyakit ini, berikut diantaranya:

  • Obat-obatan

Jenis obat-obatan serta dosisnya dipilih dan disesuaikan menurut kondisi pengidap. Namun, pada tahap pertama penanganan penyakit saraf ini ialah memakai Levodopa, yakni suatu precursor hormon dopamine. 

Akan tetapi, kini terdapat sejumlah obat yang mempunyai efek kerja selayaknya dopamine yang disebut domain agonist.

Mengetahui penyakit saraf ini bersifat progresif dan kronis, maka efektivitas levodopa akan berkurang dalam jangka panjang. Bahkan sejumlah obat menyebabkan efek samping, contohnya muntah, mual, serta gangguan dyskinesia.

Melalui kondisi ini, dosis levodopa yang disesuaikan, serta pemberian sejumlah tambahan obat dibutuhkan demi memperingan keluhan pengidap.

  • Terapi

Berhubungan dengan penanganan parkinson, dokter bisa menyarankan pengidap untuk menjalani terapi contohnya terapi wicara, fisioterapi, dan psikoterapi. 

Fisioterapi bertujuan sebagai peringan kaku otot serta nyeri sendi supaya bisa memperbaiki kemampuan gerak ataupun kelenturan tubuh. Sedangkan terapi wicara direkomendasikan jika penderita sulit bicara atau menelan makanan dan air liur. 

Lalu, psikoterapi direkomendasikan apabila pengidap mengalami depresi. Nah, prosedur tersebut direkomendasikan untuk dijalani bersama psikolog.

  • Operasi

Jika pemberian sejumlah obat tidak mampu memperingan gejala, maka dokter bisa melanjutkannya melalui tindakan operasi.

Biasanya, metode yang digunakan adalah DBS atau deep brain simulation melalui penanaman elektroda pada bagian otak yang mengalami gangguan. 

Bisa pula menggunakan gamma knife surgery apabila pengidap tidak mampu mengikuti tindakan DBS. Prosedur tersebut bertujuan sebagai pemancar sinar gamma pada area otak terdampak.

Menginjak tahun 2002, suatu badan kedokteran Amerika Serikat sudah meresmikan pemakaian ‘stimulasi otak dalam’ guna mengatasi gejala karena kurang efektifnya sejumlah obat dan gejala karena efek samping levodopa.

Tindakan stimulasi tersebut merupakan suatu penanaman elektroda dalam otak melalui satu dari sekian struktur, yakni globus pallidus internus, ventro-intermediate thalamus, atau nucleus subthalamicus.

Kemudian, dalam elektroda tersebut akan disalurkan kekuatan arus listrik 2 sampai 5 V bersama frekuensi 130 sampai 185 Hz yang difungsikan sebagai modulasi untuk kelistrikan otak.

Melalui modulasi listrik tersebut, ternyata mampu membantu penormalan lintasan kelistrikan otak yang mengalami gangguan sebab kekurangan dopamine.

Pencegahan Parkinson

Sejujurnya, sulit untuk mencegah datangnya penyakit ini. Namun sejumlah kebiasaan mampu mendorong pengurangan risiko. Di bawah ini merupakan sejumlah cara yang bisa digunakan:

  • Menghindari paparan sejumlah racun, contohnya herbisida dan pestisida. Jadi, ketika menggunakan produk tersebut, sebaiknya kenakan pakaian pakaian protektif.
  • Hindarilah trauma pada kepala. Sebaiknya gunakan pelindung kepala saat berolahraga, mengenakan helm ketika bersepeda atau bermotor, serta kencangkan sabuk pengaman ketika berkendara mobil.
  • Rutinlah berkegiatan fisik, sebab hal tersebut diyakini dapat mendorong kadar dopamine dalam otak.
  • Rutinlah mengonsumsi sejumlah makanan yang mampu menekan risiko penyakit saraf ini. Sejumlah makanan tersebut yakni buah beri, kunyit, apel, macam-macam sayuran, anggur merah, serta teh.
  • Terakhir, sebaiknya tidak lupa menjalani medical check up secara rutin guna mendeteksi sedini mungkin apabila mengidap sejumlah penyakit, khususnya penyakit saraf satu ini.

Nah, jadi itulah pembahasan mengenai parkinson. Sebaiknya segera berkonsultasi dengan profesional seperti dokter spesialis saraf apabila mendapati gejala-gejalanya.

Sumber

https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8525-Parkinsons-disease-an-overview

https://www.medicalnewstoday.com/articles/323396 https://www.nhs.uk/conditions/Parkinsons-disease/ 

#DekatCepatSehat