You are currently viewing Kenali Lactose Intolerance yang Sering Terjadi pada Anak!

Kenali Lactose Intolerance yang Sering Terjadi pada Anak!

Lactose intolerance atau intoleransi laktosa merupakan kondisi dimana tubuh tidak mampu mencerna laktosa, gula yang ditemukan dalam susu dan produk susu. Orang yang mengalami lactose intolerance memiliki gejala yang tidak menyenangkan setelah makan atau minum susu dan atau produk susu.

Lactose Intolerance

Lactose intolerance atau intoleransi laktosa terjadi ketika usus kecil tidak menghasilkan cukup enzim pencernaan yang disebut laktase. Laktase memecah laktosa dalam makanan sehingga tubuh dapat menyerapnya. Nyatanya lactose intolerance tidak sama dengan alergi susu sapi.

Penyebab Lactose Intolerance

Lactose intolerance dapat terjadi oleh siapapun baik anak-anak maupun dewasa. Penyebab umum dari kondisi ini:

  1. Keturunan. Lactose intolerance sering terjadi dalam keluarga, dari waktu ke waktu tubuh seseorang dapat membuat lebih sedikit enzim laktase.
  2. Usus kecil akan berhenti membuat laktase setelah terjadi cedera, penyakit atau terkena infeksi.
  3. Bayi prematur. Beberapa bayi yang lahir prematur mungkin tidak dapat membuat cukup laktase. Namun seiring bertambahnya usia kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.
  4. Beberapa kasus, orang dilahirkan dengan ketidakmampuan untuk membuat laktase sama sekali.

Gejala Lactose Intolerance

Gejala yang muncul karena lactose intolerance pada setiap orang bisa berbeda-beda. Umumnya gejala akan timbul sekitar 30 menit sampai 2 jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Keparahan gejala juga tergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi dan seberapa banyak laktase yang dihasilkan tubuh seseorang. Beberapa gejala, seperti:

  1. Perut kram dan nyeri
  2. Mual
  3. Kembung
  4. Diare

Diagnosis Lactose Intolerance

Jika seseorang mengalami tanda dan gejala lactose intolerance biasanya dokter akan menyarankan beberapa tes berikut untuk menegakkan diagnosa:

  1. Tes toleransi laktosa
    Tes ini memeriksa bagaimana sistem pencernaan menyerap laktosa. Pasien akan diminta untuk minum cairan yang mengandung laktosa. Beberapa sampel darah akan diambil selama 2 jam. Jika kadar gula darah tidak meningkat, maka dapat dipastikan pasien tersebut mengalami intoleransi laktosa.
  2. Tes pernapasan hidrogen. Pasien akan diminta untuk meminum cairan yang mengandung banyak laktosa. Selanjutnya, pernapasan pasien akan diperiksa beberapa kali jika tingkat hidrogen dalam nafas tinggi mungkin pasien tersebut tidak toleran terhadap laktosa.
  3. Tes keasaman tinja. Tes ini biasanya akan dilakukan untuk bayi dan anak-anak. Tes ini bertujuan untuk memeriksa berapa banyak asam dalam tinja. Jika laktosa tidak dicerna, maka tinjanya akan mengandung asam laktat, glukosa, dan asam lemak lainnya.

Tips Mengatasi Lactose Intolerance

Sejauh ini belum ditemukan pengobatan untuk membantu tubuh membuat lebih banyak laktase. Tetapi Sahabat Kaef dapat mengelola gejala dengan mengatur atau mengubah pola makan, seperti berikut:

  1. Mengkombinasikan antara makanan mengandung susu dengan makanan lain. Sahabat Kaef mungkin memiliki gejala lebih ringan jika mengonsumsi susu atau produk olahan susu dengan makanan lain yang tidak mengandung susu. Tentunya dengan takaran produk susu yang lebih sedikit.
  2. Mulai perlahan. Coba tambahkan sedikit demi sedikit susu atau produk olahan susu dalam setiap makanan Sahabat Kaef lalu lihat reaksi yang terjadi pada tubuh.
  3. Makan produk susu dengan tingkat laktosa yang lebih rendah, seperti keju keras dan yoghurt.
  4. Carilah susu dan produk olahan susu yang bebas laktosa dan rendah laktosa.
  5. Selalu periksa label kemasan makanan, beberapa makanan seperti roti, sereal, mentega, krim dan keju.

Itulah tadi beberapa hal mengenai Lactose Intolerance yang Sahabat Kaef harus tau. Jaga selalu kesehatan dan konsultasikan kesehatan Sahabat Kaef jika mengalami gejala setiap selesai mengonsumsi susu dan atau produk olahan susu langsung pada dokter melalui aplikasi Kimia Farma Mobile. Caranya download aplikasi Kimia Farma Mobile melalui App Store atau Google Play.

Sumber: