You are currently viewing Beda Lactose Intolerance dan Alergi Susu Sapi

Beda Lactose Intolerance dan Alergi Susu Sapi

Lactose intolerance atau intoleransi laktosa dan alergi susu sapi ternyata adalah dua jenis kondisi yang berbeda. Namun, karena gejala yang timbul hampir mirip satu sama lain membuat tidak sedikit kesalahpahaman dalam identifikasinya. Meskipun memiliki gejala yang hampir sama, intoleransi laktosa dan alergi susu sapi memiliki penyebab yang berbeda. 

Lalu apa saja perbedaan signifikan antara keduanya? Simak penjelasannya di bawah ini untuk tahu perbedaan intoleransi laktosa dan alergi susu sapi.

Penyebab

Intoleransi laktosa merupakan gangguan penyakit yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh mencerna kandungan laktosa pada susu atau produk susu. Sedangkan, alergi susu sapi disebabkan oleh reaksi abnormal dari sistem imun tubuh ketika kontak dengan zat alergen.

Gejala

Baik intoleransi laktosa dan alergi susu sapi dapat menyebabkan beberapa gejala pencernaan dan non-pencernaan. Gejala umum yang biasa dialami antara lain, mual, sakit perut dan diare. Namun, diantara gejala-gejala umum yang terjadi baik intoleransi laktosa maupun alergi susu sapi memiliki gejala khas.

  1. Gejala Intoleransi Laktosa:
    Gejala pencernaan yang biasanya timbul adalah, perut kembung, sembelit, borborygmus atau perut keroncongan. Sedangkan gejala non pencernaan yang terjadi seperti, sakit kepala, vertigo atau pusing, kehilangan konsentrasi, nyeri otot dan sendi, sariawan, dan kelelahan.
  1. Gejala Alergi Susu:
    Gejala spesifik yang terjadi pada alergi susu sapi terutama mempengaruhi sistem pernapasan dan kulit. Beberapa yang paling umum termasuk gatal-gatal, mengi, gatal di sekitar mulut, pembengkakan bibir, lidah atau tenggorokan, sesak nafas dan muntah.

Sedangkan, pada kasus yang parah dapat menyebabkan anafilaksis, keadaan darurat yang berakibat fatal jika tidak diobati karena menyebabkan saluran udara tertutup.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko yang terjadi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya intoleransi laktosa dan alergi susu sapi.

  1. Intoleransi Laktosa
    Pada intoleransi laktosa, terdapat empat jenis defisiensi laktase yang dapat menjadi faktor risiko. Diantaranya:
    1. Defisiensi (kekurangan) laktase primer: Jenis yang paling umum terjadi pada 70-75% populasi orang dewasa dunia. Ini juga disebut laktase non-kegigihan, dan itu ditentukan secara genetik. Dalam hal ini, produksi laktase menurun tajam sekitar dua tahun, dan orang mungkin mengalami gejala sampai akhir masa remaja atau dewasa.
    2. Defisiensi laktase sekunder: Suatu kondisi sementara yang berasal dari cedera usus kecil karena infeksi, alergi makanan, atau penyakit seperti Chrons atau penyakit celiac. Mengobati penyebabnya biasanya meningkatkan toleransi laktosa.
    3. Defisiensi laktase perkembangan: Umum pada bayi lahir prematur karena sel-sel pengekspresi laktase di usus kecil belum berkembang sempurna. Biasanya berlangsung untuk waktu yang singkat setelah mereka lahir.
    4. Defisiensi laktase kongenital: Kondisi herediter yang sangat langka di mana usus kecil menghasilkan sedikit atau tidak ada enzim laktase sejak lahir.
  1. Alergi Susu Sapi
    Tidak seperti intoleransi laktosa, alergi susu sapi sering menghilang pada sekitar usia 6 tahun. Oleh karena itu, sebagian besar hanya terjadi pada anak-anak dan mempengaruhi sekitar 1-2% bayi. Namun, penelitian menemukan bahwa anak laki-laki yang memiliki alergi lain seperti alergi makanan, asma, dermatitis atopik, dan rhinitis alergi, dua kali lebih mudah terkena alergi susu sapi.

Nah Sahabat Kaef, di atas kita sudah bahas bersama tentang perbedaan intoleransi laktosa dan alergi susu sapi. Meskipun keduanya memiliki gejala yang sama seperti mual, diare, dan sakit perut, intoleransi laktosa dan alergi susu sapi memiliki efek yang berbeda pada tubuh dan perlu penanganan medis yang berbeda juga.Jaga selalu kesehatan Sahabat Kaef dan keluarga di rumah. Jika mengalami gejala setiap selesai mengonsumsi susu dan atau produk olahan susu, Sahabat Kaef dapat langsung berkonsultasi pada dokter melalui aplikasi Kimia Farma Mobile. Caranya download aplikasi Kimia Farma Mobile melalui App Store atau Google Play.

Sumber: