Angiotensin receptor blockers

Obat Golongan Ini:

losartan, candesartan, irbesartan

Indikasi Umum:

Angiotensin receptor blockers (ARB) umumnya digunakan ketika ACE inhibitor tidak dapat ditoleransi karena batuk. Indikasinya sama:

        1. Hipertensi: untuk pengobatan hipertensi lini pertama atau kedua, untuk mengurangi risiko stroke, infark miokard, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.
        2. Gagal jantung kronis: untuk pengobatan lini pertama dari semua tingkat gagal jantung, untuk memperbaiki gejala dan prognosis.
        3. Penyakit jantung iskemik: untuk mengurangi risiko kejadian kardiovaskular berikutnya seperti infark miokard dan stroke.
        4. Nefropati diabetik dan penyakit ginjal kronis (CKD) dengan proteinuria: untuk mengurangi proteinuria dan progresi nefropati.

Cara Kerja:

ARB memiliki efek yang mirip dengan ACE inhibitor, tetapi bukannya menghambat konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, ARB memblokir aksi angiotensin II pada reseptor AT1. Angiotensin II adalah vasokonstriktor dan merangsang sekresi aldosteron. Memblokir aksinya mengurangi resistensi vaskular perifer (afterload), yang menurunkan tekanan darah. Ini terutama melebarkan arteriol glomerulus eferen, yang mengurangi tekanan intraglomerular dan memperlambat perkembangan CKD. Mengurangi tingkat aldosteron meningkatkan ekskresi natrium dan air. Ini dapat membantu mengurangi aliran balik vena (preload), yang memiliki efek menguntungkan pada gagal jantung.

Efek Samping:

ARB dapat menyebabkan hipotensi (terutama setelah dosis pertama), hiperkalemia, dan gagal ginjal. Mekanismenya sama dengan ACE inhibitor. Pasien yang paling berisiko mengalami gagal ginjal adalah mereka dengan stenosis arteri ginjal, yang mengandalkan penyempitan arteriol glomerulus eferen untuk mempertahankan filtrasi glomerulus. Tidak seperti ACE inhibitor, ARB lebih kecil kemungkinannya menyebabkan batuk kering, karena tidak menghambat ACE, dan oleh karena itu tidak mempengaruhi metabolisme bradikinin. Untuk alasan yang sama, mereka cenderung menyebabkan angioedema.

Peringatan:

ARB harus dihindari pada pasien dengan stenosis arteri ginjal atau cedera ginjal akut; pada wanita yang sedang atau berpotansi hamil; dan mereka yang sedang menyusui. Meskipun terapi ARB berpotensi bermanfaat dalam beberapa bentuk penyakit ginjal kronis, dosis yang lebih rendah harus digunakan dan efek pada fungsi ginjal dipantau secara ketat.

Interaksi:

Karena risiko hiperkalemia, hindari meresepkan ARB dengan obat peningkat kalium lainnya, termasuk suplemen kalium (oral atau IV) dan diuretik hemat kalium kecuali berdasarkan saran spesialis untuk gagal jantung lanjut. Dalam kombinasi dengan diuretik lain, obat-obatan tersebut dapat dikaitkan dengan hipotensi dosis pertama yang berat. Kombinasi NSAID dengan ARB meningkatkan risiko gagal ginjal.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Terkait

Diuretics, potassium-sparing

Obat Golongan Ini: amiloride (sebagai co-amilofruse, co-amilozide) Indikasi Umum: Sebagai bagian dari terapi kombinasi, untuk pengobatan hipokalemia yang timbul dari terapi loop- atau thiazide-diuretik. Antagonis

Read More »

Diuretics, loop

Obat Golongan Ini: Furosemide, bumetanide Indikasi Umum: Untuk menghilangkan sesak pada edema paru akut (acute pulmonary oedema) dalam konjugasi dengan oksigen dan nitrat.  Untuk pengobatan

Read More »

Nitrates

Obat Golongan Ini: Isosorbide mononitrate, glyceryl trinitrate Indikasi Umum: Nitrat kerja pendek/ short-acting (gliseril trinitrat) digunakan dalam pengobatan angina akut dan nyeri dada yang berhubungan

Read More »

Lidocaine

Indikasi Umum: Sangat umum, sebagai anestesi lokal pilihan pertama, misalnya, kateterisasi urin dan prosedur minor (misalnya penjahitan). Jarang, sebagai obat antiaritmia pada ventricular tachycardia (VT)

Read More »

Clopidogrel

Indikasi Umum: Clopidogrel umumnya diresepkan dengan aspirin, meskipun clopidogrel dapat digunakan sendiri di mana aspirin dikontraindikasikan atau tidak ditoleransi. Untuk pengobatan acute coronary syndrome (ACS),

Read More »