click to enable zoom
searching...
We didn't find any results
open map
View Roadmap Satellite Hybrid Terrain My Location Fullscreen Prev Next
More Search Options
We found 0 results. View results
Advanced Search
More Search Options
we found 0 results
Your search results

Yuk Gunakan Masker dengan Bijak, Kenali Jenis-Jenis Masker Serta Fungsinya

Posted by TRYAS on July 29, 2020
| 0

Semenjak kasus COVID-19 masuk ke Indonesia sekitar bulan Februari 2020, masker sekejap menjadi primadona yang paling dicari-cari masyarakat untuk melindungi diri dari virus corona. Mulai dari offline store seperti apotek, toko obat, swalayan, dan supermarket sampai ke online store dipenuhi dengan berbagai macam jenis dan bentuk masker. Namun keadaan tersebut tidak berlangsung lama, karena kepanikan masyarakat (Panic Buying) yang berlebihan serta banyaknya penjual masker yang memanfaatkan situasi ini mengakibatkan harga masker naik hingga 10x lipat dari harga normal dan langkanya masker murah untuk tenaga medis.

Panic buying di masyarakat ini salah satunya dapat disebabkan karena kurangnya informasi di masyarakat tentang jenis-jenis, tujuan, fungsi dan cara penggunaan masker. Masker merupakan salah satu Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan untuk melindungi mulut, hidung, dan wajah dari patogen yang ditularkan melalui udara (airborne), droplet, maupun percikan cairan tubuh yang terinfeksi (Trossman, 2016).  Dalam konteks ini masker mampu memberikan efektifitas yang sangat baik dalam upaya pencegahan penularan virus corona. Jenis masker yang ada di pasaran sangat beragam, maka dari itu diperlukan edukasi yang cukup bagi masyarakat agar penggunaan masker sesuai dengan tingkat kegiatan kegiatan yang dilakukan.

Pemilihan masker yang akan digunakan oleh petugas kesehatan berdasarkan pada penilaian faktor risiko/paparan, penyebaran infeksi yang mungkin terjadi, penyebaran penyakit yang tidak terduga, tingkat keparahan penyakit pada pasien yang sedang dilayani, dan ketersediaan masker pada pelayanan kesehatan (MacIntyre&Chughtai, 2015). Berikut klasifikasi masker beserta manfaat dan penjelasannya.

  1. Masker kain (cloth mask)

Masker kain merupakan masker yang terbuat dari kain yang dapat dibersihkan dan digunakan kembali (reuse). Masker ini umumnya digunakan di negara berkembang namun jarang digunakan pada pelayanan kesehatan (MacIntyre&Chughtai, 2015).

Penelitian tentang penggunaan masker kain untuk mencegah infeksi seperti difteri, campak, dan tuberkulosis (TB) masih terbatas dan kadaluarsa (outdated). Penggunaan masker kain biasanya digunakan sebagai pengganti masker bedah maupun respirator apabila tidak tersedia atau persediaan terbatas pada kasus – kasus tertentu seperti kasus infeksi Ebola di Afrika Barat (MacIntyre&Chughtai, 2015).

Gambar 1. Masker Kain (cloth mask)

2. Masker bedah (surgical mask)

Masker bedah merupakan masker yang biasa digunakan oleh petugas kesehatan di pelayanan kesehatan. Masker bedah terbuat dari bahan sintetik yang dapat memberikan perlindungan dari tetesan partikel berukuran besar (>5 μm) yang dapat disebarkan melalui batuk atau bersin ke orang yang berada di dekat pasien (kurang dari 1 meter) (Depkes RI, 2008). Sejak abad ke- 20, masker bedah tidak hanya digunakan saat operasi, namun juga digunakan oleh petugas kesehatan dan orang sakit untuk mencegah penyebaran infeksi ke orang lain (MacIntyre et al., 2015).

Tabel 2. Indikasi pemakaian masker bedah (Depkes RI, 2008; Wright, 2014)

Gambar 2. Masker Bedah (surgical mask)

Cara pemakaian masker bedah (surgical mask) dengan benar sebagai berikut:

  1. Hadapkan sisi masker yang berwarna ke arah luar dan strip logam fleksibel di bagian atas. Pada masker tanpa warna, letakkan sisi dengan lipatan menghadap ke bawah dan keluar.
  2. Eratkan tali atau karet elastis pada bagian tengah kepala dan leher (di bawah telinga).
  3. Paskan strip logam fleksibel pada batang hidung.
  4. Sesuaikan/paskan masker dengan erat pada wajah dan di bawah dagu sehingga melekat dengan baik.
  5. Periksa ulang pengepasan masker (Center of Health Protection, 2014; Depkes RI, 2008)

Cara pelepasan masker bedah (surgical mask) Sumber : (Depkes RI, 2008)

  1. Jangan menyentuh bagian depan masker karena telah terkontaminasi.
  2. Lepaskan tali bagian bawah dan kemudian tali bagian atas atau karet elastis pada masker.
  3. Buang ke tempat limbah infeksius/limbah medis (Depkes RI, 2008).

Masker bedah digunakan oleh petugas saat melakukan pelayanan kesehatan terutama pada pasien rentan atau terinfeksi. Indikasi penggantian atau pelepasan masker bedah pada petugas kesehatan:

  1. Apabila masker terlihat kotor dan sudah tidak layak untuk digunakan (lecek).
  2. Masker basah karena air liur, dahak, percikan darah atau cairan tubuh.
  3. terasa longgar atau kebesaran sehingga tidak efektif untuk melindungi mulut, wajah, dan hidung.
  4. Saat berganti melayanani pasien untuk mencegah infeksi yang bersilangan.
  5. Apabila            masker     sudah       tidak      digunakan                 lagi     (Jangan menggantungkan masker di leher!)
  6. Sesaat setelah keluar ruangan perawatan pasien (Depkes RI, 2008; NSW Department of Health, 2007; Trossman, 2016).

3. Respirator N95

Respirator N95 atau biasa dikenal dengan masker effisiensi tinggi merupakan jenis masker khusus yang digunakan melindungi dari partikel dengan ukuran < 5 mikron yang dibawa oleh udara (Depkes RI, 2008).

Respirator N95 biasanya digunakan oleh petugas kesehatan pada saat merawat pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui airborne (udara) maupun droplet, seperti flu burung atau SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Respirator ini terdiri dari banyak lapisan bahan penyaring dan harus dapat menempel dengan erat pada wajah tanpa ada kebocoran sehingga sebelum menggunakan perlu dilakukan fit test (uji pengepasan) pada setiap pemakaiannya (Depkes RI, 2008).

Indikasi pemakaian N95 respirator pada petugas kesehatan hampir mirip dengan pemakaian masker bedah, namun pemakaian respirator ini lebih dianjurkan pada keadaan – keadaan risiko tinggi. Berdasarkan guideline dari World Health Organization (WHO) dan Center for Disease Control (CDC), petugas kesehatan dianjurkan untuk menggunakan respirator pada keadaan risiko tinggi seperti pada saat melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol. Aerosol adalah zat – zat atau partikel yang berada di udara dengan ukuran ±0,01 – 1000 mikrometer. Untuk beberapa infeksi seperti tuberkulosis, Norovirus, flu burung, virus Ebola, MERS-CoV, Varicella-zoter, Varicella, SARS, dan selama pademi influenza (MacIntyre&Chughtai, 2015; NSW Department of Health, 2007) .

Tabel 3. Indikasi pemakaian respirator N95 (Depkes RI, 2008; WHO, 2008)

Referensi :

Trossman, S. (2016). Respirator or procedure mask? Resource available to help
nurses, patients stay safe. Retrieved May 10, 2016, from
http://www.theamericannurse.org/index.php/2016/03/16/respirator-orprocedure-mask/

World Health Organization (2020). Novel Coronavirus (2019-nCoV) Advice for the Public: When and How to Use Masks

MacIntyre, C.R., & Chughtai, A.A. (2015). Facemasks for the prevention of
infection in healthcare and community settings. BMJ (Clinical Research
Ed.), 350, h694. http://doi.org/10.1136/bmj.h694

Center of Health Protection. (2014). Use mask properly Protect ourselves and
protect others. Retrieved May 22, 2016, from
http://www.chp.gov.hk/en/wapdf/33640/2.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.

  • Cari Apoteker

Compare Listings